Wednesday, February 1, 2012

KERAJAAN-KERAJAAN DI MAROS Bagian I


Perjanjian Bungaya 1667/1669 yang dilakukan antara Sultan Hasanuddin Raja Gowa XVI dengan Admiral Cornelis Spelman ternyata memberi dampak besar tidak saja bagi Kerajaan Gowa sebagai fihak yang dirugikan tetapi juga membiaskan pengaruh ke kerajaan lain termasuk kerajaan yang berada di sekitar Gowa antara lain Maros.
 
Maros yang pada awalnya hanya berdiri sebuah kerajaan yang berpusat di Pakere akhirnya mekar yang diakibatkan rasa kecewa banyak bangsawan/pangeran Kerajaan Gowa dan Bone terhadap hasil dan pengaruh yang ditimbulkan Perjanjian Bungaya bagi tatanan kenegaraan Kerajaan Gowa dan Bone, sebab pengaruh kekuasaan politik Belanda menjadi semakin dominan. Kompensasi kekecewaan mereka itu diwujudkan dalam bentuk hijrah meninggalkan kerajaannya mencari daerah baru yang bebas dan merdeka untuk dibuka dan dijadikan perkampungan tempat pemukiman bersama sanak keluarga dan pengikutnya yang setia.

Dengan demikian wilayah Maros sebagai daerah yang cukup luas dan potensial namun masih tertutup menjadi sasaran mereka dalam pencaharian daerah baru. Akhirnya lambat laun di Wilayah Maros berdiri perkampungan baru yang dibuka oleh pangeran/bangsawan dari Gowa dan Bone yang kemudian menjelma menjadi kerajaan-kerajaan berotonomi.
Para pangeran dan bangsawan yang membuka kerajaan-kerajaan itu mempunyai dalih dan sebab yang berbeda-beda dan kedatangannya membawa serta regelia/kalompoang yang menandakan ketinggian derajat sehingga memungkinkan untuk memperoleh pengakuan masyarakat asli agar segera mengakui kekuasaannya.

Dalam Perjanjian Bungaya, Maros ditetapkan sebagai daerah yang dikuasai langsung oleh Belanda (direct rule) sehingga bentuk-bentuk pemerintahan kerajaan-kerajaan yang berada di Maros diformulasikan dalam bentuk Regentschaap yang dipimpin oleh penguasa bangsawan lokal yang bergelar Regent (Bupati), demikian pula halnya dengan Kerajaan Maros warisan Karaeng LoE ri Pakere.

Dan untuk mengenang kerajaan yang didirikan oleh Karaeng LoE ri Pakere, maka akan kita patrikan raja-raja yang pernah mengendalikan pemerintahannya sampai terbentuknya kerajaan-kerajaan di sekitarnya, yaitu :
1. KaraEng LoE ri Pakere Manurunga ri Pakere
2. I Sang Aji Gaddong Batara Marusu
3. KaraEng LoE ri Marusu
4. I Mappasomba DaEng Nguraga Karaeng Patanana Langkana
5. I Yunnyi DaEng Mangemba Karaeng Tunikakkasang
6. Karaeng Angsakayai Binanga Marusu, Sultan Muhammad Adam
7. KaraeEngta Barasa, Sultan Muhammad Ali
8. I Yunusu DaEng Pasabbi, Sultan Muhammad Yunus

Pada akhirnya sekitar abad XVII di Wilayah Maros dan sekitarnya telah berdiri sekitar 8 buah kerajaan yang berotonom. Kerajaan-kerajaan itu adalah:

KERAJAAN SIMBANG


Wilayah Kerajaan Simbang tepat di antara Kerajaan Bone dan Gowa. Luasnya melingkupi 24 Kampung. Pertama kali berpusat di Sampakang.
Simbang didirikan sebagai sebuah kerajaan oleh La Sanrima DaEng Pabelo yang bergelar Baso Mallawati Ana’batta’na Gowa. Beliau ini adalah putera dari La Mappareppa Tosappewali Arung Palakka Karaeng Ana’moncong Sultan Ismail Tumenanga ri Somba Opu (Somba Gowa XX/Mangkau Bone XIX/Datu Soppeng XXII) dari istri bernama I Mira KaraEnga ri Gowa.
La Sanrima DaEng Pabelo meninggalkan negerinya Kerajaan Gowa akibat kekecewaan atas campur tangan Belanda terhadap suksesi pemerintahan Kerajaan Gowa dimana dirinya yang seharusnya naik tahta menggantikan ayahandanya tetapi oleh Belanda diserahkan kepada I Mappau’rangi Karaeng Boddia, akibat kekecewaaan ini sehingga Beliau keluar mendirikan Kerajaan Simbang pada sekitar tahun 1709.
Urut-urutan Raja yang memerintah Simbang sejak tahun 1709 - 1963 adalah :
1. La Sanrima Daeng Pabelo Baso Mallawati Ana Batta’na Gowa Karaeng Ammallia Butta
2. La Pajonjongi Karaeng Appakaluaraka Butta
3. La Pagala Daeng Masarro Karaeng Sabuka
4. La Sengka Daeng Nimalo Karaeng Kanjilo
5. La Rassang Karaeng Bukkuka
6. La Baso Daeng Ngitung Karaeng Cidutoa
(Pemerintahan dijalankan oleh Kare Daeng Manja Sullewatang Simbang)
7. La Sulaimana Daeng Masikki
(Pemerintahan dijalankan oleh Kare Daeng Sitoro Sullewatang Simbang)
8. La Dolo Daeng Patokkong Petta CorawaliE ri Makuring 
 (Pemerintahan dijalankan oleh Kare Daeng Mattari Sullewatang Simbang)
9. La Oemma Daeng Manrapi Karaeng Turikale Matinroa ri Bonto - muloro
10. Haji Andi Patahoeddin Daeng Paroempa Sullewatang Turikale
11. Andi Amiroeddin Daeng Pasolong Karaeng Co’bo-e
12. Haji Andi Siradjoeddin Daeng Maggading

Wilayah-wilayah yang menjadi daerah hukum Kerajaan Simbang sebanyak 24 kampung, yaitu sebagai yaitu Samanngi, Tanetea, Tana Takko, Bontobua, Nipa, Sege-segeri, Banyo, Bontokamase, SambuEja, Camba-camba, Rumbia, Allu, Bukkangmata, Tallasa, Bontopa’dinging, Pakalu, Garangtiga, Patte’ne, Sampakang, Batubassi, Pakere, Gantarang, Aloro, dan Bantimurung.

Pada tahun 1963, Simbang diubah bentuknya dari sebuah Kerajaan /Distrik Adat Gemenschaap menjadi sebuah Kecamatan dengan nama Kecamatan Bantimurung, dengan Camat I ialah Haji Andi Sirajuddin Daeng Maggading Karaeng Simbang XII.

KERAJAAN TANRALILI


Kerajaan Tanralili dibuka pertama kali oleh La Tenri Petta Tomarilaleng yang meninggalkan Kerajaan Bone karena tidak senang terhadap campur tangan Belanda yang teramat dominan dalam pemerintahan Kerajaan Bone.
La Tenri adalah putera dari La Tobala Petta Pakkinyarange Arung Tanete Ri Awang Jannang Bone. La Tenri memperistrikan I Manning Arung Petteng, puteri dari La Tenri Page Arung Tungke Arung Mampu, putera dari La Panuangi Towappamole Sultan Abdullah Mansyur (Mangkau Bone XX) Matinroe ri Beula.
Setelah mendirikan perkampungan Tanralili yang berpusat di Tompo’bulu, La Tenri lalu mengangkat puteranya La Mappaware Daeng Ngirate sebagai raja pertama, yaitu sekitar tahun 1711.
Urut-urutan raja yang memerintah Tanralili sejak tahun 1711 -1963 adalah sbb
1. La Mappaware Daeng Ngirate Batara Tanralili Matinroa ri Damma
2. I Daeng Tanralili Matinroa ri Masale
3. I Lele Daeng Rimoncong Matinroa ri Tallo
4. I Panjanggau Daeng Mamala Matinroa ri Solojirang
5. I Malluluang Daeng Manimbangi Matinroa ri Cidutoa
6. I Calla Daeng Mabbunga Karaeng Borong
7. I Fatahulla Daeng Mattayang
8. I Nyimpung Daeng Palallo
9. I ToE Daeng Pagajang Karaeng Ta’lea ri Bima
10. I Punruang Daeng Mangngati Matinroa ri Bengkalis
11. I Bura’ne Abdul Gani Daeng Manromo
12. Andi Nanggong Daeng Mattimu
13. Andi Abdullah Daeng Matutu
14. Haji Andi Badoeddin Daeng Manuntungi

Daerah-daerah yang menjadi wilayah hukum Tanralili meliputi wilayah pegunungan sekitar Kerajaan Gowa yang melingkupi 40 kampung, yaitu Biringkaloro, Ba’do-ba’do, Masale, Dulang, Sabantang, Kacici, Batangase, Pattontongang, Leko, Ba’do Ujung, Lekopancing, Makkaraeng, Pannasakkang, Baku, Pao-pao, Bontotangnga, Macinna, Amma’rang, Billa, Kaluku, Salu, Tokka, Baru, Bara, Damma, Sambotara, Bossolo, Bassikalling, Tanadidi, Tanete Pakku, Ujung Paku, Puca, Mangento, Kabbung, Matowa, Tanete Bulu, Cindakko, Massulangka, Batulotong dan Biringere.

Pada tahun 1963, Tanralili bersama Distrik Sudiang, Bira, MoncongloE dan Biringkanaya dilebur menjadi sebuah Kecamatan dengan nama Kecamatan Mandai. Pada tahun 1989 nama Tanralili kembali eksis ke permukaan sejarah setelah dijadikan sebagai sebuah Kecamatan Perwakilan yang selanjutnya saat ini menjadi sebuah kecamatan defenitif.

(bersambung)

1 comment:

  1. tabe eyang mauka tanyaki sumberta tentang silsilah raja2 simbang...

    ReplyDelete